REFLEKSI UJIAN PRAKTEK
Tokoh yang diperankan kelasku dalam ujian praktek drama kelas ini adalah Van Lith dalam kisah Bethlehem van Java. Menurutku, Van Lith adalah sosok yang sangat menarik karena keberaniannya datang ke Muntilan dengan niat yang tulus, meskipun ia sadar akan banyak tantangan yang akan dihadapi. Saat pertama kali datang, Van Lith adalah pribadi yang rendah hati, sederhana, dan teguh pada pendiriannya. Ia tidak memaksakan kehendak, tetapi memilih untuk mendekati masyarakat dengan kesabaran dan ketulusan. Sikapnya yang mau belajar budaya setempat dan menghargai orang lain membuatnya perlahan diterima oleh masyarakat Muntilan.
Bagian hidup Van Lith yang paling menarik bagiku adalah saat ia tetap teguh pada misinya meskipun awalnya tidak dipercaya. Banyak orang meragukannya, bahkan menolak kehadirannya. Namun Van Lith tidak menyerah dan tidak membalas dengan amarah. Ia justru membuktikan niat baiknya melalui tindakan nyata. Keteguhannya inilah yang menurutku sungguh mulia, karena ia memilih bertahan di jalan yang benar meski prosesnya panjang dan melelahkan. Dari sini aku belajar bahwa kepercayaan orang lain tidak bisa dipaksa, tetapi harus diperjuangkan dengan konsistensi dan kesabaran.
Dalam proyek kolaboratif ujian praktik ini, peranku adalah sebagai sie dekorasi. Tugas kami menyiapkan properti dan suasana panggung agar sesuai dengan cerita. Sejujurnya, kerja tim di bagian dekorasi menurutku cukup kurang maksimal. Banyak perbedaan pendapat dan proses kerjanya terasa lambat. Kadang aku merasa kesal karena tidak semua bisa bekerja dengan cepat dan kompak. Namun aku mencoba memaklumi, karena setiap orang punya cara kerja dan kesibukan masing-masing. Selain itu, masalah waktu latihan juga menjadi tantangan tersendiri. Aku harus mengorbankan waktu pribadi untuk mengikuti latihan dan persiapan uprak.
Dari pengalaman ini, aku belajar banyak hal, terutama tentang tanggung jawab dan disiplin. Aku sadar bahwa bekerja dalam tim itu tidak semudah yang dibayangkan. Kerja sama membutuhkan kesabaran, pengertian, dan pengorbanan. Tidak semua berjalan sesuai harapan, tetapi justru di situlah aku belajar untuk tetap bertahan dan menyelesaikan tugas dengan sebaik mungkin.
Dua keutamaan Vinsensian yang paling aku rasakan selama proses ini adalah kerendahan hati dan kesederhanaan. Kerendahan hati aku praktekkan dengan mau menerima pendapat orang lain dan menyadari bahwa pendapatku tidak selalu paling benar. Sementara kesederhanaan terlihat dari caraku menjalani peran tanpa menuntut hasil yang berlebihan, tetapi fokus pada proses dan kebersamaan. Melalui ujian praktik ini, aku belajar bahwa nilai-nilai kecil seperti rendah hati dan sederhana justru punya dampak besar dalam kerja tim dan kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply