Ujian praktik drama tentang Frans Van Lith menjadi proses pembelajaran yang sangat berharga bagi saya, bukan hanya saat pementasan, tetapi terutama selama latihan. Sejak awal membaca naskah hingga mendalami peran sebagai Sariman, saya belajar memahami karakter, menghafal dialog, mengatur ekspresi, serta membangun chemistry dengan teman-teman pemain lain. Prosesnya tidak selalu mudah karena kami harus menyesuaikan jadwal, memperbaiki kesalahan, dan mengulang adegan berkali-kali. Namun dari situ saya belajar arti komitmen dan tanggung jawab dalam sebuah kerja tim.
Sebagai Sariman, saya berusaha menjiwai peran sebagai murid yang polos, penuh semangat belajar, dan setia mendukung Van Lith. Dalam proses latihan, saya belajar untuk lebih percaya diri saat berbicara di depan banyak orang serta lebih peka terhadap emosi dalam adegan, terutama saat membawa kabar yang menyelamatkan misi Muntilan. Hal ini membuat saya belajar bahwa setiap peran dalam kerja kolaboratif memiliki arti dan tanggung jawab masing-masing.
Dua keutamaan Vinsensian yang paling saya rasakan selama proses ini adalah kerendahan hati dan pelayanan. Kerendahan hati saya latih dengan menerima kritik dan arahan dari sutradara maupun teman-teman agar penampilan saya semakin baik. Sikap pelayanan saya wujudkan dengan berusaha hadir tepat waktu, membantu jika ada yang kesulitan, dan mengutamakan keberhasilan kelompok daripada diri sendiri. Dari proses ujian praktik ini, saya merefleksikan bahwa keberhasilan bukan hanya tentang hasil akhir di panggung, tetapi tentang bagaimana kami bertumbuh bersama melalui kerja sama, ketekunan, dan semangat melayani.

Leave a Reply