Artikel Sejarah Re Gan Mian & Enshi Baked Potato- SIDE QUEST- KELOMPOK 1

Provinsi Hubei di Tiongkok merupakan salah satu daerah dengan kekayaan kuliner yang menggoda. Setiap wilayah di provinsi ini memiliki hidangan khas yang mencerminkan karakter masyarakatnya. Dari hiruk pikuk kota Wuhan hingga ketenangan pegunungan Enshi, dua makanan khas Hubei yang paling terkenal dan memiliki kisah menarik adalah Re Gan Mian (Hot Dry Noodles) dan Enshi Baked Potato.

Re Gan Mian berasal dari Wuhan, jantung Provinsi Hubei yang dikenal dengan cuaca panas dan lembap. Hidangan ini muncul pada awal abad ke-20, ketika makanan cepat saji untuk sarapan sangat dibutuhkan oleh masyarakat perkotaan yang sibuk.

Kisah awalnya bermula dari seorang penjual mie bernama Li Bao. Suatu hari, karena cuaca sangat panas, ia tanpa sengaja menumpahkan minyak wijen ke dalam tumpukan mie yang belum dijual. Untuk menghindari kerugian, Li Bao kemudian mencampur mie tersebut dengan saus dan bumbu sederhana, lalu menjualnya ke pelanggan. Tak disangka, banyak pembeli yang menyukai aroma harum minyak wijen dan tekstur mie yang kenyal.

Sejak saat itu, Re Gan Mian menjadi populer di kalangan warga Wuhan dan dikenal sebagai sarapan favorit masyarakat setempat. Kini, hampir setiap sudut jalan di Wuhan memiliki penjual Re Gan Mian, terutama di pagi hari sebelum aktivitas kota dimulai.

Re Gan Mian dijuluki sebagai “Raja Sarapan Wuhan” (Breakfast King of Wuhan) karena menjadi menu wajib bagi hampir semua warga kota setiap pagi. Di sudut-sudut jalan Wuhan, mudah ditemukan kios kecil atau gerobak sederhanayang menjual Re Gan Mian sejak subuh.

Bagi warga setempat, semangkuk Re Gan Mian dan secangkir teh hangat sudah cukup untuk memulai hari dengan penuh energi. Hidangan ini menjadi bagian dari rutinitas yang mencerminkan kehidupan kota Wuhan yang cepat, padat, namun penuh kehangatan.

Nama Re Gan Mian semakin dikenal luas ketika Wuhan menjadi sorotan dunia pada masa pandemi tahun 2020. Di tengah situasi sulit, banyak media internasional menyoroti kehidupan warga Wuhan yang berusaha bangkit — dan Re Gan Mian muncul sebagai simbol keteguhan dan semangat mereka.

Banyak warga membagikan foto dan cerita tentang menikmati semangkuk mie panas di rumah, menjadikan Re Gan Mian sebagai lambang harapan dan kehangatan di masa penuh ketidakpastian.

Jika Re Gan Mian mencerminkan kehidupan urban Wuhan yang cepat dan energik, maka kuliner berikutnya membawa kita pada suasana yang jauh berbeda.

Bepergian ke arah barat dari Wuhan, kita akan tiba di wilayah pegunungan yang sejuk dan indah, yaitu Enshi Tujia dan Miao Autonomous Prefecture. Di sinilah cita rasa sederhana namun menenangkan hadir melalui Kentang Panggang Khas Enshi.

Makanan ini sangat populer sebagai cemilan jalanan (street food) dan makanan rumahan tradisional. Saat malam tiba, aroma kentang panggang yang dibakar di atas bara api memenuhi jalan-jalan kecil Enshi. Penduduk setempat biasanya menikmatinya sambil berbincang atau ditemani teh panas, momen yang menggambarkan kehangatan kehidupan pedesaan.

Proses pembuatannya sederhana namun menghasilkan rasa yang luar biasa. Kentang segar dipanggang hingga bagian luar renyah kecokelatan, sementara bagian dalamnya lembut dan creamy. Setelah matang, kentang dibumbui dengan cabai bubuk, garam, lada, dan bawang putih.

Beberapa penjual juga menambahkan saus wijen, daun ketumbar, atau saus pedas khas Hubei agar cita rasanya lebih kaya. Makanan ini biasanya disajikan panas, sangat cocok dinikmati di cuaca dingin pegunungan yang menusuk tulang.

Kentang Panggang Khas Enshi bukan sekadar makanan ringan, tetapi juga lambang kehangatan dan kebersamaan masyarakat pegunungan. Rasanya yang gurih dan pedas lembut memberi sensasi nyaman yang sulit dilupakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *