
Ujian praktik umum kelas XII-E melalui pementasan drama “Bethlehem Van Java” tentang Romo Frans Van Lith menjadi pengalaman yang sangat bermakna bagi saya dan seluruh kelas. Proses yang kami jalani bukan hanya tentang menampilkan sebuah pertunjukan di atas panggung, tetapi tentang perjalanan panjang latihan, revisi, evaluasi, dan kerja sama yang terus disempurnakan hingga hari-H.
Sejak awal, kelas kami mengalami berbagai dinamika, terutama dalam proses perombakan naskah. Tim script harus menerima banyak revisi, bahkan sampai mengubah sebagian besar isi cerita demi menyesuaikan dengan masukan guru. Perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada alur, tetapi juga pada dialog, teknis panggung, dan pembagian peran. Kami belajar bahwa sebuah karya tidak pernah langsung sempurna, melainkan harus melalui proses panjang yang penuh evaluasi dan keterbukaan terhadap kritik. Bahkan dua hari sebelum pementasan, saat gladi bersih, kami kembali mendapat masukan terkait konsep sequence dan pengaturan blackout. Situasi tersebut sempat membuat kami bimbang, namun melalui diskusi bersama yang dipimpin oleh sutradara, kami sepakat untuk tetap percaya diri dengan konsep yang telah kami latih. Keputusan itu mengajarkan kami arti keberanian, kekompakan, dan tanggung jawab bersama.
Dalam pementasan ini, saya berperan sebagai koordinator koreografi, pemeran Ibu 1, dan narator pembuka bahasa Jawa. Sebagai koordinator koreografi, saya menghadapi tantangan besar karena saya dan tim belum memiliki pengalaman membuat konsep flashmob. Kami sempat kebingungan menentukan arah gerakan, namun melalui diskusi dengan sutradara dan latihan yang berulang, kami akhirnya menemukan gambaran yang sesuai dengan alur cerita. Tantangan lainnya adalah memastikan banyak teman dapat terlibat dalam flashmob, agar orang tua yang hadir dapat melihat anaknya tampil. Kami juga menyadari bahwa tidak semua memiliki kemampuan menari, sehingga kami berusaha menciptakan gerakan yang sederhana, mudah diikuti, tetapi tetap menarik secara visual. Salah satu ide yang awalnya saya ragukan adalah gerakan mengangkat beberapa pemain. Namun setelah latihan berkali-kali, gerakan tersebut dapat dieksekusi dengan baik dan justru menjadi salah satu bagian yang kuat dalam penampilan kami. Dari peran ini, saya belajar tentang kepemimpinan, kesabaran, dan keberanian mengambil keputusan.
Sebagai pemeran Ibu 1, saya berdialog menggunakan bahasa Jawa. Meskipun saya cukup terbiasa berbahasa Jawa, beberapa kosakata dalam naskah terasa kurang familiar sehingga saya perlu menyesuaikan dan berlatih lebih mendalam. Tantangan semakin terasa ketika terjadi dua kali pergantian script yang memengaruhi dialog saya, mulai dari perubahan bahasa hingga penambahan dialog. Namun melalui latihan yang konsisten, menerima masukan, dan terus berproses bersama teman-teman, saya mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
Selain itu, saya juga menjadi narator pembuka dalam bahasa Jawa. Untuk memastikan pelafalan dan intonasi yang tepat, saya berkonsultasi dengan Pak Pelog. Tantangan terbesar adalah menghafal teks dengan baik sekaligus menjaga timing saat tampil, karena bagian pembuka menentukan kesan pertama pementasan. Saat hari-H, kami harus tampil di bawah sorotan lampu yang sangat terang dan tetap menjaga ekspresi, serta sigap ketika berpindah dalam kondisi blackout yang gelap. Semua itu menuntut fokus dan kesiapan mental.
Dari seluruh proses ini, saya menyadari bahwa keberhasilan bukan hanya diukur dari hasil akhir di atas panggung, tetapi dari bagaimana kami bertumbuh bersama selama latihan. Kami belajar menerima kritik, memperbaiki kesalahan, bekerja sama, dan tetap percaya diri meskipun menghadapi perubahan mendadak. Ujian praktik ini menjadi salah satu pengalaman yang mengajarkan saya arti komitmen, tanggung jawab, dan kebersamaan dalam sebuah tim.
Bagi saya pribadi, “Bethlehem Van Java” bukan sekadar drama tentang Romo Frans Van Lith, tetapi juga cerminan perjalanan kelas XII-E yang berani berproses, saling mendukung, dan berjuang hingga akhir bersama.

Leave a Reply