

Proses ujian praktik pembuatan drama teatrikal tentang Romo Frans Van Lith sebagai sutradara merupakan pengalaman yang sangat bermakna bagi saya, bukan hanya sebagai tugas akademik, tetapi juga sebagai proses pembelajaran hidup. Melalui proyek ini, saya tidak hanya belajar tentang sejarah dan perjuangan Romo Van Lith, tetapi juga belajar tentang kerja sama, tanggung jawab, dan nilai-nilai Vinsensian yang nyata saya alami selama proses berlangsung.
Bagian hidup Romo Frans Van Lith yang paling menarik bagi saya adalah keteguhan dan visinya dalam dunia pendidikan, khususnya keberaniannya untuk mendidik dengan kesabaran dan kualitas, bukan sekadar mengejar kuantitas. Filosofi beliau yang menekankan bahwa lebih baik membina sedikit orang yang sungguh siap daripada banyak orang yang belum matang sungguh membuka cara pandang saya. Dalam drama yang kami garap, nilai ini terasa sangat relevan karena proses latihan dan pendalaman karakter tidak bisa dilakukan secara instan. Seperti Romo Van Lith yang menanam benih iman dan pendidikan secara perlahan, kami pun belajar bahwa sebuah karya yang bermakna membutuhkan proses, kesabaran, dan ketekunan. Bagian hidup ini mengajarkan saya bahwa dampak besar sering kali lahir dari langkah-langkah kecil yang konsisten.
Dalam proyek kolaboratif ujian praktik ini, saya berperan sebagai sutradara. Peran ini menuntut saya untuk tidak hanya memikirkan konsep artistik, tetapi juga mengelola banyak karakter, emosi, dan dinamika tim. Saya belajar bahwa menjadi sutradara bukan berarti selalu memerintah, melainkan mendengarkan, memahami kemampuan setiap anggota, dan menyatukan berbagai ide menjadi satu visi yang utuh. Ada saat-saat ketika latihan tidak berjalan sesuai rencana, ada perbedaan pendapat, bahkan kelelahan. Namun justru di situlah saya belajar mengendalikan ego, bersikap sabar, dan tetap bertanggung jawab hingga akhir. Refleksi dari peran ini membuat saya sadar bahwa kepemimpinan sejati adalah soal melayani dan memberi arah, bukan sekadar menjadi yang paling terlihat.
Dua keutamaan Vinsensian yang paling menonjol saya praktekkan dan dapatkan selama proses ujian praktik ini adalah kesederhanaan dan semangat pelayanan. Kesederhanaan saya pelajari ketika harus menerima keterbatasan, baik dalam waktu, tenaga, maupun kemampuan tim. Tidak semua hal bisa sempurna, tetapi dengan sikap rendah hati, kami belajar memaksimalkan apa yang ada. Sementara itu, semangat pelayanan sangat terasa dalam kerja sama tim. Banyak anggota yang rela membantu di luar tugasnya, saling menyemangati, dan tetap berkomitmen meski lelah. Saya pun belajar melayani tim dengan hadir, mendukung, dan memberi ruang bagi setiap orang untuk berkembang.
Melalui ujian praktik ini, saya tidak hanya menghasilkan sebuah drama teatrikal, tetapi juga mengalami proses pembentukan karakter. Nilai-nilai Romo Frans Van Lith dan semangat Vinsensian tidak hanya kami tampilkan di atas panggung, tetapi sungguh kami hidupi dalam prosesnya. Pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi saya untuk terus belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa, peduli, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply