Refleksi uprak umum – Abygail Rouli Sianturi E/01

Bethlehem Van Java ❤️

Screenshot

Screenshot
Screenshot
Screenshot
Screenshot
Screenshot

Ujian praktik kelas saya yang berjudul Bethlehem van Java menceritakan kisah Frans van Lith, seorang misionaris yang datang ke Indonesia, khususnya Pulau Jawa, dan berjuang membantu masyarakat memperoleh pendidikan dengan mendirikan sekolah. Melalui kisah ini, kami belajar tentang perjuangan, pengabdian, dan pentingnya pendidikan bagi masa depan bangsa.

Pada awal latihan di bulan Desember 2025, saya mendapatkan peran sebagai salah satu murid yang diajar oleh Romo Van Lith. Saya sangat senang karena bisa ikut terlibat langsung dalam alur cerita. Namun, setelah naskah pertama kami dikomentari oleh sie acara, ternyata konflik dalam cerita dianggap kurang kuat. Akhirnya, kami memutuskan untuk merombak ulang naskah. Dalam perubahan tersebut, peran saya dihilangkan. Awalnya tentu ada rasa kecewa, tetapi saya belajar untuk menerima keputusan bersama demi kebaikan penampilan kelas. Saya kemudian dipercaya menjadi perkap (perlengkapan) dan juga penari flashmob.

Selama proses latihan, banyak keseruan yang kami alami, tetapi tidak sedikit juga tantangan dan konflik yang muncul. Masih ada teman-teman yang sering terlambat bahkan bolos latihan. Hal ini membuat latihan menjadi kurang efektif. Akhirnya, kami sepakat untuk memberlakukan sanksi denda bagi yang terlambat, agar semua bisa lebih disiplin dan bertanggung jawab. Dari situ saya belajar bahwa kerja tim membutuhkan komitmen dan kedisiplinan dari setiap anggotanya.

Secara pribadi, tantangan terbesar saya adalah manajemen waktu. Saya sedang mengikuti les intensif untuk persiapan masuk PTN, dan jadwalnya sering bertabrakan dengan jadwal latihan. Karena saya ingin tetap berkontribusi maksimal untuk kelas, saya sering memilih mengikuti kelas sesi 2 agar bisa mengutamakan latihan uprak terlebih dahulu. Situasi ini melatih saya untuk lebih bijak dalam mengatur waktu dan menentukan prioritas.

H-15 sebelum hari pelaksanaan, tiba-tiba muncul ide untuk mengubah scene akhir drama. Diadakan pemungutan suara untuk menentukan setuju atau tidak, dan saya menjadi satu-satunya yang tidak setuju. Alasan saya sederhana, yaitu khawatir tidak bisa mengikuti tambahan latihan karena jadwal les yang padat. Namun, saya belajar untuk tetap menghargai keputusan mayoritas. Berkat Tuhan, ternyata banyak jam kosong yang bisa dimanfaatkan untuk latihan bernyanyi dan memantapkan adegan akhir. Semua akhirnya berjalan lebih lancar dari yang saya bayangkan.

Saat H-2, kami melakukan gladi kotor. Papan properti yang menjadi tanggung jawab saya sebagai perkap tiba-tiba rusak bagian penyangganya. Saya sempat panik dan merasa bersalah, tetapi bersyukur karena keesokan harinya papan tersebut sudah diperbaiki dan bisa digunakan dengan baik. Pada hari pelaksanaan yang sesungguhnya, sempat terjadi insiden mikrofon saya jatuh. Walaupun sempat kaget, saya berusaha tetap tenang dan melanjutkan tugas saya. Puji Tuhan, secara keseluruhan penampilan kami berjalan lancar.

Dari seluruh proses ini, saya belajar banyak hal: tentang kerendahan hati saat peran diubah, tentang tanggung jawab dalam tugas yang dipercayakan, tentang pentingnya kerja sama dan komunikasi, serta tentang manajemen waktu di tengah kesibukan. Ujian praktik ini bukan hanya tentang menampilkan drama, tetapi tentang proses bertumbuh bersama sebagai satu kelas. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari perjalanan Bethlehem van Java, yang bukan hanya menceritakan perjuangan Romo Van Lith, tetapi juga menjadi kisah perjuangan kami sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *