Refleksi Uprak – Lusia Vianney Tandiono XIIE/24

Kegiatan pagelaran uprak mengenai Frans Van Lith dalam kisah Bethlehem Van Java merupakan salah satu pengalaman paling berharga yang saya lalui karena melalui berbagai proses panjang mulai dari latihan, persiapan, hingga penampilan. Di tahap awal, kegiatan dimulai dari pembagian peran untuk setiap anggota, dan proses ini berjalan dengan lancar. Setelah itu, kami mulai melakukan latihan bersama secara rutin, baik sepulang sekolah maupun pada hari libur. Dalam proses latihan, banyak hal yang perlu diperhatikan, terutama pada penguasaan script seperti nada bicara, ekspresi, serta penghayatan karakter agar penampilan terlihat lebih hidup.

Setelah beberapa kali latihan, kami menjalani sesi latihan bersama guru yang memberikan banyak masukan untuk memperbaiki jalannya drama. Dari berbagai masukan tersebut, terdapat beberapa perubahan pada alur dan bagian drama sehingga kami perlu kembali beradaptasi dan melakukan latihan yang lebih intensif. Meskipun cukup menantang, proses ini membantu kami memahami peran masing-masing dengan lebih baik. Setelah libur akhir tahun, latihan dilakukan dengan lebih serius dan terjadwal. Kami kembali menjalani latihan bersama guru dan menerima banyak masukan baru yang membuat beberapa bagian drama diubah, ada yang dikurangi maupun ditambahkan agar penampilan menjadi lebih maksimal. Kami terus berlatih secara konsisten hingga tahap gladi bersih sebagai persiapan akhir sebelum tampil.

Dalam drama uprak ini, saya berperan sebagai sie dekorasi dan sie makeup. Peran ini menuntut ketelitian, kreativitas, serta kemampuan bekerja sama dengan tim. Sebagai sie makeup, saya bertugas menyiapkan tata rias para tokoh agar terlihat sesuai dengan cerita aslinya. Misalnya, warga pribumi ditata dengan gaya rambut dan riasan yang menggambarkan suasana zaman dahulu, sedangkan tokoh Belanda dibuat dengan riasan yang berbeda sesuai karakter. Saya juga bertanggung jawab menata rambut para pemeran, termasuk membuat sanggul Jawa klasik bagi tokoh perempuan pribumi agar karakter terlihat lebih hidup dan autentik. Sementara itu, sebagai sie dekorasi, saya menyiapkan berbagai properti untuk mendukung alur cerita drama serta membantu menata panggung agar sesuai dengan suasana yang ingin ditampilkan.

Selama proses tersebut, tentu terdapat beberapa kesulitan yang kami hadapi. Salah satu kesulitan utama adalah adanya banyak revisi konsep, baik pada dekorasi maupun kebutuhan properti, karena adanya perbedaan pendapat antaranggota tim dan masukan dari guru. Selain itu, keterbatasan waktu menjadi tantangan tersendiri karena persiapan harus dilakukan di sela-sela jadwal latihan dan kegiatan sekolah. Kesulitan lain yang dialami adalah menyesuaikan makeup dengan karakter setiap pemeran, terutama ketika waktu persiapan terbatas namun hasil riasan tetap harus rapi dan sesuai konsep. Terkadang juga terdapat properti yang kurang jumlahnya atau belum sesuai sehingga perlu mencari alternatif dengan cepat.

Kesulitan-kesulitan tersebut dapat diatasi melalui komunikasi dan kerja sama tim yang baik. Kami melakukan diskusi bersama untuk menentukan solusi terbaik, membagi tugas secara jelas, serta saling membantu ketika ada pekerjaan yang belum selesai. Saya juga belajar untuk lebih kreatif dengan memanfaatkan bahan yang tersedia serta mengatur waktu dengan lebih disiplin agar semua persiapan dapat selesai tepat waktu.

Pada saat persiapan di hari-H, kami mulai bersiap sejak pukul 07.00 pagi, dimulai dari makeup, penggunaan kostum, hingga penataan rambut (hairdo). Suasana saat itu terasa tegang namun juga penuh semangat karena semua anggota saling mendukung satu sama lain. Saat waktu penampilan tiba, rasa gugup sempat dirasakan, tetapi latihan panjang yang telah dilalui membuat kami lebih percaya diri. Syukurnya, persiapan hingga penampilan pagelaran berjalan dengan lancar sesuai harapan.

Melalui kegiatan pagelaran uprak ini, saya belajar banyak hal, seperti pentingnya tanggung jawab, disiplin, komunikasi, serta kerja sama dalam sebuah tim. Saya menyadari bahwa setiap detail kecil, seperti tatanan rambut maupun penempatan properti, sangat berpengaruh terhadap keseluruhan pementasan. Proses panjang ini tidak hanya memberikan pengalaman yang menyenangkan, tetapi juga menjadi pembelajaran berharga yang akan selalu saya ingat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *