JOCELYN ANGELICA XII-E/19
SCRIPT WRITER

Dalam pelaksanaan ujian praktik, kelas XII-E mempersembahkan sebuah drama berjudul Bethlehem van Javayang mengisahkan perjuangan dan pengabdian Romo Frans van Lith dalam menyebarkan agama Katolik di Pulau Jawa. Drama ini menggambarkan perjalanan misinya yang penuh tantangan hingga akhirnya Van Lith berhasil mendirikan sekolah serta membaptis kurang lebih 171 warga Kalibawang di Sendangsono.
Dalam pagelaran ini, saya berperan sebagai script writer atau penulis naskah. Pada peran ini, kami bertanggung jawab menyusun naskah yang akan dimainkan oleh para pemain saat pementasan. Proses yang saya lakukan dimulai dari membaca dan memahami kisah perjuangan Romo Frans van Lith yang hendak melakukan misinya di tanah Jawa. Setelah itu, para scriptwriter mulai menyusun alur cerita, menulis dialog, serta melakukan revisi naskah berkali-kali agar alurnya semakin runtut dan agar pesan yang ingin disampaikan dapat ditangkap dengan jelas. Proses revisi ini tidak selalu mudah, karena kami harus menyesuaikan alur drama dengan kebutuhan, durasi, dan kemampuan para pemeran.
Pada awalnya, konsep drama kami terdiri dari sangat banyak blackout untuk pergantian adegan. Namun, seiring berjalannya waktu dan melalui berbagai diskusi bersama, alur cerita serta permasalahan dan tantangan yang dihadapi Romo Frans van Lith selama misinya dibuat lebih mengalir dan terhubung satu sama lain. Dengan konsep sequence tersebut, cerita dapat lebih menarik, sehingga pada akhirnya drama kami hanya terdiri dari satu kali blackout saja.
Selain itu, tantangan lain yang kami rasakan adalah adanya perubahan beberapa konsep yang waktunya cukup mepet dengan hari pelaksanaan. Bahkan ketika sudah H-13, kami kembali menemukan konsep baru yang dirasa lebih menarik untuk menggambarkan peristiwa pembaptisan di Sendangsono. Kami menambahkan drama musikal dengan mengadakan nyanyian dari beberapa aktor. Walaupun waktu yang kami miliki sangat terbatas untuk menyempurnakan dan mematangkan konsep baru ini, sebagai script writer kami tetap berusaha menyesuaikan naskah, dan para pemeran pun berlatih dengan maksimal. Pada akhirnya, seluruh konsep baru tersebut dapat dilaksanakan dengan baik dan sukses pada hari H.
Dari pengalaman saat ujian praktik ini, saya belajar bahwa kreativitas, keberanian, dan kemampuan beradaptasi sangatlah diperlukan dalam pelaksanaan sebuah proyek, terutama proyek yang melibatkan banyak orang seperti pagelaran drama. Kreativitas mendorong kami untuk terus mencari konsep yang lebih baik dan tidak berhenti pada ide awal yang masih bisa dikembangkan. Tanpa kreativitas, drama kami mungkin akan tetap terdiri dari banyak blackout tanpa konsep yang unik dan menarik. Selain itu, keberanian untuk mencoba hal baru serta kekompakan dan kemampuan beradaptasi seluruh anggota kelas XII-E sangat berperan penting dalam mewujudkan konsep sequence dan drama musikal yang akhirnya menjadi kekuatan utama pementasan kami.
Melalui uprak ini, saya menyadari bahwa sebuah hasil yang baik tidak akan tercipta secara instan, namun harus melewati proses yang panjang dan kerja sama. Pengalaman ini menjadi pembelajaran berharga bagi saya, baik dalam akademik maupun dalam kehidupan sehari-hari.
NARATOR

VIDEO DOKUMENTASI=
https://youtube.com/shorts/dAL7-UcZrII?feature=share
Dalam pementasan drama Bethlehem van Java yang dipersembahkan oleh kelas XII-E, saya juga berperan sebagai narator. Dalam peran tersebut, saya bertugas untuk menghubungkan satu scene dengan scene lainnya agar alur cerita terasa lebih menyambung dan penonton dapat memahami konteks dari setiap peristiwa yang ditampilkan.
Kesulitan yang saya hadapi selama menjadi narator adalah menyesuaikan nada suara dengan kebutuhan suasana serta menyesuaikan pembacaan naskah dengan video opening yang telah dipersiapkan. Pada bagian awal drama terdapat pengantar singkat mengenai kisah Bethlehem van Java, dan saya harus menyesuaikan kecepatan berbicara agar teks selesai dibacakan tepat sebelum judul “Bethlehem van Java” ditampilkan di layar. Tantangan ini cukup sulit karena saya harus menjaga artikulasi dan intonasi saya agar tetap terdengar jelas, tanpa berbicara terlalu cepat atau terlalu lambat. Pada beberapa latihan awal, saya masih sering terlambat menyelesaikan pembacaan sehingga tidak sinkron dengan tampilan video. Namun, melalui latihan yang dilakukan secara berulang dan adanya evaluasi, saya mampu menemukan tempo yang tepat. Pada akhirnya, saat hari H pagelaran, saya berhasil membawakan opening dengan pas dan sesuai dengan timing yang telah ditentukan.
Hal yang saya pelajari selama menjadi narator adalah bahwa latihan yang konsisten dapat membawa kita pada hasil yang lebih maksimal. Latihan benar-benar membantu saya memperbaiki kekurangan, terutama dalam hal pengaturan tempo. Selain itu, saya juga belajar bahwa saran dan kritik orang lain sangat membantu proses saya untuk lebih berkembang.
DEKORASI




Selain menjadi script writer dan narator, dalam proses persiapan pagelaran ini saya beberapa kali turut membantu dalam pembuatan properti, khususnya kolam yang digunakan untuk adegan pembaptisan pada scene terakhir serta pengecatan properti ember. Dalam pembuatan kolam, saya membantu membuat dan mengecat batu-batu yang akan ditempelkan di bagian pinggir kolam agar tampilannya lebih menarik dan alami. Selain itu, saya juga ikut serta dalam pembuatan fondasi kolam yang terbuat dari kardus. Dalam proses pembuatannya, saya dan beberapa teman membentuk pola setengah lingkaran dan menambahkan frame agar kolam dapat berdiri dengan kokoh. Setelah itu, kami mengelem dan merekatkan potongan-potongan kardus tersebut hingga menyatu. Ketika fondasi selesai, kami menempelkan kain berwarna biru yang telah diukur dan disesuaikan ukurannya agar seluruh bagian kardus tertutup dengan rapi. Sebagai sentuhan akhir, batu-batu yang telah dibuat ditempelkan di pinggir kolam, berserta dengan tambahan bunga berwarna merah dan merah muda dari origami untuk memperindah tampilan.
Kendala yang kami hadapi saat proses pembuatan adalah kardus yang sangat sulit direkatkan satu sama lain meskipun sudah menggunakan lem tembak dalam jumlah yang cukup banyak. Lem sering kali tidak cukup kuat untuk menahan bentuk kolam, sehingga bagian-bagiannya mudah terlepas. Pada akhirnya, kami harus menggunakan isolasi untuk merekatkan sisi luar dan dalam kolam agar strukturnya lebih kuat. Meskipun saat itu kolam sudah cukup kokoh, properti tersebut sering digunakan selama latihan dan terkadang dibawa dengan kurang hati-hati, sehingga kolam beberapa kali mengalami kerusakan dan harus diperbaiki kembali oleh sie dekorasi.
Dari pengalaman membantu pembuatan properti ini, saya belajar bahwa di balik sebuah properti yang terlihat sederhana di atas panggung, terdapat proses panjang yang membutuhkan ketelitian, kerja sama, dan kesabaran.

Leave a Reply