Refleksi UPRAK-Fransisca Whitney Sudewa/15

Dokumentasi sebagai sie kostum (membuat topi Hellings)

Dokumentasi sebagai warga/extras

“Bethlehem van Java” merupakan judul ujian praktik kelas kami yang mengangkat kisah pelayanan Romo Van Lith di tanah Jawa. Beliau dikenal sebagai seorang misionaris yang datang untuk menyebarkan ajaran Kristus dan berperan penting dalam perkembangan Gereja Katolik di Jawa.
Dalam uprak ini, saya berperan sebagai warga (extras) yang menjadi bagian dari masyarakat Jawa pada masa kedatangan Romo Van Lith. Saya harus menyesuaikan ekspresi, gerakan, dan sikap agar sesuai dengan latar waktu tersebut.
Contohnya, saya harus mampu mengekspresikan penderitaan yang dialami masyarakat pada masa itu. Saya berlatih memperdalam ekspresi dengan membayangkan kondisi masyarakat saat itu yang hidup dalam keterbatasan.
Selain menjadi pemeran warga, saya juga tergabung dalam sie kostum. Tugas kami adalah menyiapkan pakaian dan atribut yang sesuai dengan karakter masing-masing tokoh. Salah satu tantangan terbesar yang saya alami adalah saat membuat topi Hellings. Awalnya, saya mengikuti ukuran dari video YouTube sebagai referensi. Namun, setelah topi selesai dibuat dan dicoba oleh pemeran Hellings, ternyata ukurannya terlalu kecil dan tidak pas di kepala.
Hal ini menjadi kendala karena waktu persiapan cukup terbatas. Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa tidak semua panduan di internet bisa langsung diterapkan tanpa penyesuaian. Untuk mengatasi masalah itu, saya memutuskan untuk mengukur langsung lingkar kepala pemeran Hellings menggunakan meteran. Setelah mengetahui ukuran yang tepat, saya membuat ulang topi tersebut dengan ukuran yang lebih besar dan sesuai. Hasilnya, topi dapat dipakai dengan nyaman dan terlihat proporsional saat dipentaskan.
Melalui pengalaman dalam uprak “Bethlehem van Java”, saya belajar banyak hal, bukan hanya tentang sejarah dan peran Romo Van Lith, tetapi juga tentang tanggung jawab, kerja sama, dan pemecahan masalah. Menjadi bagian dari sie kostum mengajarkan saya pentingnya ketelitian, komunikasi, dan evaluasi. Sementara itu, menjadi pemeran warga melatih saya untuk lebih menghayati peran dan mengekspresikan emosi secara mendalam meskipun bukan tokoh utama.
Secara keseluruhan, uprak ini memberikan pengalaman berharga yang tidak hanya melatih kreativitas dan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk sikap disiplin, empati, dan kerja sama dalam tim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *