Refleksi Uprak Umum XII-E (Davina Clarissa/09)

Sebenarnya ada banyak sekali kegiatan yang dapat diceritakan, namun semuanya akan saya kemas dalam sebuah teks panjang yang akan saya sampaikan disini.

Semua foto tersebut selalu diambil pasca latihan XII-E. Walau tak semua dokumentasi dapat saya masukkan, tetapi tidak ada satupun yang tidak saya kenang, termasuk satu persatu foto tersebut. Tidak ada foto yang tidak diambil bersama dengan teman-teman, karena ya memang mereka lah yang memegang banyak peran dalam serangkaian pagelaran ini.

Saya tahu esensi dari tugas ini juga untuk menyebutkan kesulitan-kesulitan dan hambatan yang dilalui oleh kelas kami, namun jujur saya belum menemukan masalah yang saya anggap sulit karena mereka yang selalu bersedia menjalankan tugas nya masing-masing dengan sepenuh hati. Akan tetapi, saya bisa membicarakan ketika awal konsep kelas kami ‘kurang disetujui’ oleh para guru (sekali lagi tidak bermaksud menyinggung pihak manapun).

Ada 2 kejadian yang mungkin bisa saya singgung disini:

1. Sebagai scriptwriter, kami cenderung harus bekerja lebih awal daripada yang lain. Mulai dari mengkonsep keseluruhan cerita, hingga naskahnya sendiri. Saya dan tim script lainnya mendapat banyak revisi, bahkan sampai harus menghapus setengah dari naskah itu sendiri. Selain itu, ditengah-tengah sudah mulai latihan pun, beberapa kali kami tetap harus gonta-ganti script untuk menyesuaikan. Hambatan yang sama, diselesaikan pula dengan cara yang serupa. Tim script selalu berunding ketika menghadapi masalah tersebut, lalu membagi tugas agar selesai dengan efisien, hingga akhirnya kami mendapatkan hasil yang memuaskan.

2. Dua hari. Ya, benar, 2 HARI sebelum hari-h, yakni saat gladi bersih, kami mendapat masukan dari beberapa guru mengenai konsep ‘sequence’ dimana itu adalah konsep yang meminimalisir adanya blackout. Bahkan kelas kami sempat deep talk mengenai masalah ini, yang tentunya pembahasan dipimpin oleh sutradara. Jujur, saya sendiri di saat itu bingung harus apa, karena memang alasan yang diberi para guru masuk akal dan membuat saya menjadi pesimis, tetapi di sisi lain juga sudah terlanjur lelah. Setelah voting, 100% dari kelas kami memilih untuk ‘pede aja dulu’ menjalankan konsep sequence yang telah kami latih sedemikian rupa. Untuk menambah kesan artistik juga kami mematangkan nyanyian di ending scene.

Dan puji Tuhan dari segala doa yang juga kami rapalkan, hasilnya menurut saya pribadi sudah bagus. Tak hanya kerja keras yang diandalkan disini, tapi juga banyaknya doa dari banyaknya anak pula. Kami mendapat pujian dari orangtua dan beberapa guru serta karyawan. Clearly one of the best experience I personally had with these 33 people.

Oh, tambahan, hanya untuk keseruan semata. Foto dipojok kiri atas adalah percobaan makeup pertama. Saya, mewakilkan sie makeup berterimakasih pada mereka yang bersedia mukanya di utak-atik. Tentunya pada percobaan pertama tidak langsung sempurna, sempat mendapat kritik dari sutradara dan langsung diperbaiki. Kami (tim makeup) menerima evaluasi dengan lapang dada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *