Pagelaran kelas XII E yang berjudul ‘Bethlehem van Java’ ditampilkan pada tanggal 13 Februari 2026. Dari segala kerja keras yang telah dilakukan oleh setiap anggota kelas, penampilan tersebut mampu berjalan dengan lancar. Selama proses persiapan, saya sendiri berperan sebagai penulis naskah, aktor, dan sering membantu SIE Dekorasi dan SIE Dokumentasi.
Latihan di Kelas







Selama persiapan untuk kegiatan pagelaran, siswa-siswi kelas XII E seringkali melakukan persiapan di dalam ruang kelas saat pulang sekolah. Hal ini dilakukan untuk melatih kelancaraan adegan-adegan yang masih perlu dimantapkan lagi. Secara umum, waktu tersebut digunakan untuk melakukan run-through agar bisa lebih mudah melihat apakah alur cerita bisa berjalan dengan natural. Tidak hanya itu, ketika terdapat adegan yang direvisi, maka waktu latihan saat pulang sekolah digunakan untuk menguasainya.
Dalam pelatihan di kelas, terdapat masalah utama yang dialami, yakni ruangan yang terbatas dalam ruang kelas. Ukuran tersebut tentunya sangat berbeda dengan ukuran panggung sebenarnya. Oleh karena itu, perkiraan peletakkan properti dan blocking terkadang kurang sesuai dengan ruang yang ada pada panggung bangsal. Hal itu membuat beberapa anggota kelas menjadi bingung dan panik ketika akan melakukan latihan di ruang besar. Selain itu, saat latihan di dalam ruang kelas, beberapa siswa tidak hadir ataupun telat sehingga menghambat kelancaran dilakukannya latihan.
Namun, kami satu kelas mengatasinya dengan menerapkan sistem denda, dimana bila seseorang telat, maka ia harus membayar Rp 4.000,00 per menitnya. Ini tentunya mendorong kami untuk selalu hadir tepat waktu ketika diadakan latihan saat pulang sekolah. Untuk mengatasi masalah ruangan yang sempit dalam kelas, kami menyusun kursi dan meja untuk memaksimalkan ruangan yang ada. Tidak hanya itu, kami juga membuat pembatas menggunakan tiang untuk melambangkan panggung tingkat pertama, kedua, dan ketiga. Ini membantu kami menentukan penempatan properti dan pergerakan yang lebih sesuai dengan apa yang akan ditampilkan saat hari-H.
Secara pribadi, saya mengalami masalah dalam hal pengaturan waktu sebab saya seringkali memiliki les saat pulang sekolah. Namun, saya sadar akan pentingnya latihan untuk UPRAK umum dan menjadwalkan ulang les saya ketika ada latihan saat pulang sekolah, misalnya dengan mengikuti les online atau dengan les pada hari lain.
Pemantapan di Luar Sekolah









Selain berlatih di ruang kelas saat pulang sekolah, kami juga berlatih di luar jam tersebut di rumah Joshua dan di BAV Studio. Secara umum, saat waktu-waktu, run-through diprioritaskan karena ada ruangan yang jauh lebih luas dibandingkan ketika sedang berada di dalam ruang kelas. Kami biasanya melakukan setidaknya dua kali run-through dan membenarkan beberapa adegan yang kami rasa masih kurang dalam hal kualitas.
Tetapi, karena sebagian besar properti disimpan di sekolah, maka latihan seringkali dilakukan tanpa properti sebenarnya. Ini tentunya menyebabkan kesulitan bagi SIE Perlengkapan untuk mengira-ngira peletakkan properti. Dalam naskah awal, saya juga mmebantu SIE Perlengkapan dalam memindahkan alat baptis dan terkadang mengalami kebingungan mengenai dimana harus diletakkan alat tersebut karena tidak ada batasan untuk Videotron dan tingkatan panggung. Tidak hanya itu, kekurangannya properti juga membuat gerakan terkadang terkesan tidak natural sehingga terdapat kesulitan untuk menilai apakah suatu run-through sudah cukup baik.
Dalam usaha mengatasi masalah-masalah tersebut, kami menggunakan properti seadanya, baik di rumah Joshua maupun di BAV Studio. Ini dapat dilihat ketika kami menggunakan sepatu sebagai pembatas panggung di BAV Studio dan menggunakan tongkat pramuka sebagai pembatas di rumah Joshua. Selain itu, kami juga menggunakan bantal atau tepak makan sebagai properti pengganti untuk beberapa adegan. Kami juga berusaha membawa properti kecil yang masih bisa dipindahkan dari sekolah agar bisa terbiasa berlatih menggunakan properti sebenarnya. Ini tentunya juga mendorong para aktor untuk bisa berperan dengan lebih natural. Namun, untuk mengatasi hal pengira-ngiraan peletakkan properti, kami terus berlatih dengan giat agar tidak akan mengalami kesulitan saat hari-H.
Latihan di Ruang Besar





Selama proses latihan untuk pagelaran UPRAK, SIE Acara menjadwalkan beberapa hari untuk berlatih di tiga ruang besar, yakni Bangsal Lazaris, Francis Room, dan V-Hall. Latihan di bangsal bersama SIE Acara pertama dilakukan pada tanggal 15 Desember 2025. Pada hari itu, kami mulai melatih blocking pada panggung bangsal karena belum pernah melakukannya sebelumnya.
Namun, kami mengalami kendala sebab kelas kami belum sepenuhnya menyuasai naskah. Oleh karena itu, penampilan kami pada saat itu masih kurang lancar. Tidak hanya itu, kami juga mendapatkan masukan dari SIE Acara sebab cerita yang kami buat kurang menampilkan konflik dan klimaks dari kisah Van Lith. Oleh karena itu, kami harus melakukan revisi pada naskah dan lebih sering lagi berlatih. Hal ini tentunya menjadi tugas tambahan untuk diri saya sebagai SIE Script Writer yang menjadi penggerak utama dalam revisi. Namun, saya tetap berusaha mengerjakan revisi dengan maksimal.
Ketika melakukan latihan-latihan tambahan di V-Hall, Francis Room, dan Bangsal Lazaris, kami seringkali melakukan run-through untuk memanfaatkan ruangan yang besar yang telah disediakan. Selama latihan, saya merasa cukup kesulitan untuk mendapatkan ketukan lagu yang akhirnya digunakan sebagai penutup, yakni ‘When you Believe’. Bahkan, saat gladi bersih, saya bernyanyi dalam ketukan yang salah. Hal tersebut menjadi salah satu faktor penampilan lagu penutup saat gladi bersih gagal. Tetapi, saya tetap terus berlatih, baik di rumah maupun di sekolah, agar bisa lebih familiar dengan lagu ‘When You Believe’ dan akhirnya mampu menguasainya sebelum penampilan pada tanggal 13 Februari 2026.
Pembuatan Dekorasi




Untuk menciptakan suatu pertunjukkan yang baik, tentunya properti yang memadai sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, SIE Dekorasi XII E membuat berbagai properti yang mampu mendukung cerita yang telah dibuat oleh SIE Script Writer. Karena jumlah anggota SIE Dekorasi tidak sepenuhnya cukup untuk membuat properti yang banyak dalam waktu yang singkat, maka anggota kelas lain pun ikut membuat properti. Hal ini umumnya dilakukan saat pulang sekolah di dalam ruang kelas atau di rumah salah satu siswa. Beberapa contoh properti yang telah dibuat adalah karung, kolam, pendopo, cangkul, papan tulis, dan ember. Selain itu, SIE Dekorasi dan SIE Perlengkapan juga mempersiapkan properti lain seperti koper, tas, buku, wayang, dan dakon.
Tetapi, kami juga mengalami beberapa kesulitan dalam proses pembuatan properti, yakni rusaknya properti setelah digunakan untuk latihan sehingga harus sering diperbaiki. Ini tentunya memakan banyak sekali waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk melatih pertunjukkan. Proses pembuatan properti yang kompleks juga menjadi suatu kendala ketika harus diperbaiki karena adanya banyak sekali langkah yang harus dilakukan. Adanya berbagai revisi mengenai properti, seperti perlu ditambahkannya cat pada properti ember serta pembuatan ulang properti pendopo menggunakan kayu, juga menjadi tugas tambahan dalam hal dekorasi.
Untuk mengatasi masalah tersebut, kami memutuskan untuk lebih berhati-hati ketika menggunakan properti saat berlatihn agar tidak sering rusak. Apabila ada seorang anggota kelas yang dengan sengaja merusak properti, maka siswa-siswi lain dengan tegas menegur dia agar tidak melakukan hal tersebut lagi. Tidak hanya itu, ketika ada properti yang harus diperbaiki, banyak sekali anggota kelas yang membantu SIE Dekorasi agar pekerjaan tersebut bisa segera diselesaikan dan memiliki kualitas yang layak untuk ditampilkan. Kami juga menyimpan properti yang ada di tempat yang cukup luas di belakang ruang kelas agar tidak rusak ketika disimpan di sana maupun saat dikeluarkan.
Penulisan Naskah



Penulisan naskah sudah mulai dilakukan sejak bulan September. Persiapan awal dilakukan dengan membaca serta merangkum buku ‘Van Lith: Pembuka Pendidikan Guru di Jawa: Sejarah 150 Tahun Serikat Jesus di Indonesia)’. Buku tersebut berisi tentang keadaan awal kedatangan Van Lith, masalah-masalah yang ia alami di Muntilan, serta segala karya yang telah ia lakukan untuk menciptakan kesejahteraan bagi warga Jawa.
Untuk menyelesaikan tugas tersebut dengan lebih mudah, kami membagi tugas membaca dan merangkum materi buku. Kemudian, kami mengadakan rapat untuk menentukan bagian mana saja yang akan dimasukkan ke dalam naskah akhir kami. Lalu, kami menyusun outline adegan-adegan untuk dijadikan bahan presentasi kepada SIE Acara. Walaupun terdapat banyak sekali hal yang perlu diperbaiki, kami tidak putus asa dan membenarkan outline adegan kami agar lebih sesuai dengan revisi yang diberikan oleh para guru. Sesudah itu, kami mulai membuat naskah dengan membagi tugas pengerjaan adegan. Saya sendiri mendapatkan bagian menulis adegan dimana Van Lith bertemu dengan warga Jawa dan belajar mengenai budaya lokal.
Setelah naskah sudah selesai dibuat, kelas XII E memilih pemeran-pemeran yang paling cocok dengan karakter yang akan dimunculkan dalam pertunjukkan kami dan mulai berlatih. Melalui hal tersebut, kami bisa melihat adegan mana yang sungguh-sungguh bagus untuk dimunculkan dan melakukan beberapa revisi tambahan pada naskah untuk lebih memantapkannya lagi. Kami juga mendapatkan masukkan dari SIE Acara sesudah tampil di depan mereka dan menerapkannya juga. Beberapa hal yang kami ubah termasuk penambahan adegan musikal, penambahan konflik antar Van Lith dan warga, penambahan interaksi Van Lith dengan warga yang lebih bervariasi, serta memotong beberapa adegan yang terlalu panjang, seperti adegan Van Lith mengajar di Kweekschool. Selain itu, saya juga diberikan tugas untuk membantu menulis script MC dan caption untuk membantu SIE Dokumentasi dalam membuat postingan di akun Instagram sekolah.
Namun, kami sebagai SIE Script Writer juga mengalami beberapa kesulitan dalam proses pembuatan naskah, yakni jumlah revisi yang harus dilakukan cukup banyak. Untuk menagatsi masalah ini, kami memberikan deadline pada revisi yang harus dilakukan agar terdapat waktu yang cukup untuk berlatih menerapkan revisi tersebut dalam penampilan. Kami juga sering melakukan diskusi untuk menentukan cara melakukan revisi yang paling tepat dan realistis bisa ditampilkan di panggung, mengingat harus dilakukannya perpindahan properti dan aktor.
Dari persiapan untuk UPRAK umum hingga hari-H pagelaran, saya belajar pentingnya bertanggung jawab atas tugas yang telah diberikan kepada diri saya. Saya juga telah didorong untuk berusaha bekerja sama dengan banyak sekali orang yang berbeda dengan diri saya dan untuk mengatur waktu saya agar bisa mengikuti latihan secara rutin. Karena segala dan kerja kelas yang telah dilakukan oleh satu kelas, saya bersyukur pertunjukkan kami akhirnya bisa menjadi sesuatu yang dibanggakan.

Leave a Reply