Refleksi UPRAK Umum – Alicia Nicoletta – XII E/03

Pada tanggal 13 Februari 2026, kelas XII E menampilkan pertunjukkan berjudul ‘Bethlehem Van Java’ yang mengisahkan kedatangan Frans Van Lith ke Jawa hingga karya pembaptisannya di Kalibawang. Selama proses persiapan, saya sendiri berperan sebagai aktor, penulis naskah, dan sering membantu SIE Dekorasi serta Dokumentasi.


Latihan di Kelas

Selama persiapan untuk kegiatan pagelaran, siswa-siswi kelas XII E seringkali melakukan persiapan di dalam ruang kelas saat pulang sekolah. Hal ini dilakukan untuk melatih kelancaraan adegan-adegan yang masih perlu dimantapkan lagi. Secara umum, waktu tersebut digunakan untuk melakukan run-through agar bisa lebih mudah melihat apakah alur cerita bisa berjalan dengan natural. Tidak hanya itu, ketika terdapat adegan yang direvisi, maka waktu latihan saat pulang sekolah digunakan untuk menguasainya.

Dalam pelatihan di kelas, terdapat masalah utama yang dialami, yakni ruangan yang terbatas dalam ruang kelas. Ukuran tersebut tentunya sangat berbeda dengan ukuran panggung sebenarnya. Oleh karena itu, perkiraan peletakkan properti dan blocking terkadang kurang sesuai dengan ruang yang ada pada panggung bangsal. Hal itu membuat beberapa anggota kelas menjadi bingung dan panik ketika akan melakukan latihan di ruang besar. Selain itu, saat latihan di dalam ruang kelas, beberapa siswa tidak hadir ataupun telat sehingga menghambat kelancaran dilakukannya latihan.

Hal ini kami atasi dengan membuat batasan menggunakan tongkat dan/atau kursi untuk melambangkan batasan tingkat-tingkat panggung. Kami juga menyusun kursi dan meja di dalam kelas untuk memaksimalkan ukuran tempat yang ada agar bisa melakukan blocking dengan lebih akurat. Untuk mengatasi masalah ketidakhadiran beberapa siswa, kami menerapkan sistem denda (untuk setiap satu menit telat, maka orang yang telat harus membayar Rp 4.000) untuk mendorong mereka agar hadir dengan konsisten.

Secara pribadi, saya mengalami kesulitan dalam mengatur waktu karena jadwal latihan di ruang kelas seringkali bertabrakan dengan jadwal les saya. Namun, saya sadar akan pentingnya UPRAK umum ini sehingga saya usahakan untuk selalu hadir ketika diadakan latihan UPRAK. Saya juga menjadwalkan ulang les saya dan mengikuti les online sebagai pengganti ketika saya tidak bisa hadir pada les saat pulang sekolah.


Pemantapan di Luar Sekolah

Selain berlatih di ruang kelas saat pulang sekolah, kami juga berlatih di luar jam tersebut di rumah Joshua dan di BAV Studio. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan waktu yang telah ada untuk latihan, terutama karena adanya ruangan yang jauh lebih luas di lokasi tersebut dibandingkan dengan ruang kelas. Latihan di luar sekolah umumnya digunakan untuk melatih run-through.

Namun, latihan-latihan tersebut tentunya juga mendatangkan masalah tersendiri, yakni tidak adanya akses pada properti sesungguhnya karena sebagian besar disimpan di sekolah. Tidak hanya itu, kami juga mengalami masalah dalam blocking karena tidak ada akses pada Videotron dan berbedanya layout lokasi-lokasi yang kami pilih dengan panggung bangsal. Hal-hal tersebut juga menyebabkan aktor tidak bisa berperan dengan natural karena harus berperan tanpa properti. Oleh karena itu, terdapat kesulitan untuk menilai apakah suatu run-through sudah memuaskan.

Untuk mengatasi masalah ini, kami menggunakan beberapa alternatif properti, seperti bantal yang berfungsi sebagai karung dan tepak makan. Ini tentunya membantu para aktor membayangkan suatu adegan dengan lebih mudah. Kami juga menggunakan beberapa hal seperti sepatu dan tongkat pramuka untuk melambangkan batas-batas panggung dan Videotron. Secara keseluruhan, kami terus berusaha berlatih dengan semangat dan sungguh-sungguh secara rutin.


Latihan di Ruang Besar

Selama proses latihan untuk pagelaran UPRAK, SIE Acara menjadwalkan beberapa hari untuk berlatih di tiga ruang besar, yakni Bangsal Lazaris, Francis Room, dan V-Hall. Latihan di bangsal bersama SIE Acara pertama dilakukan pada tanggal 15 Desember 2025. Pada hari itu, kami mulai melatih blocking pada panggung bangsal karena belum pernah melakukan hal tersebut sebelumnya.

Namun, kami mengalami kendala sebab kelas kami belum sepenuhnya menyuasai naskah. Oleh karena itu, penampilan kami pada saat itu masih kurang lancar. Tidak hanya itu, kami juga mendapatkan masukan dari SIE Acara sebab cerita yang kami buat kurang menampilkan konflik dan klimaks dari kisah Van Lith. Ini menyebabkan kami harus melakukan revisi pada naskah dan lebih sering lagi berlatih untuk memantapkan praktik revisi tersebut.

Utuk mengatasi masalah ini, saya bersama dengan SIE Script Writer dengan giat melakukan revisi pada naskah kami dan segera menginformaikan kelas XII E apabila telah dilakukan revisi agar setiap anggota kelas bisa familiar dengan naskah yang terbaru. Kami juga lebih sering mengadakan latihan agar bisa lebih menguasai jalan ceritanya, blocking, dan perpindahan properti. Adanya ruangan yang lebih luas juga membantu kami lebih familiar dengan ukuran panggung sebenarnya dan dengan bertampil di depan suatu audiens.

Secara pribadi, saya mengalami kesulitan dalam menguasai ketukan lagu ‘When You Believe’ yang digunakan sebagai penutup. Karena saya harus bernyanyi solo, maka akan tampak sangat jelas apabila saya bernyanyi dalam ketukan yang salah. Ini pun terjadi ketika melakukan gladi bersih dan menyebabkan kurang maksimalnya penampilan. Oleh karena itu, saya dengan giat berlatih, baik di dalam maupun luar waktu latihan, agar bisa hafal pada lagu ‘When You Believe’. Saat hari-H pagelaran, saya mampu bernyanyi dengan ketukan yang benar dan penutup pertunjukkan kelas XII E pun berjalan dengan baik.


Pembuatan Dekorasi

Untuk menciptakan suatu pertunjukkan yang baik, tentunya properti yang memadai sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, SIE Dekorasi XII E membuat berbagai properti yang mampu mendukung cerita yang telah dibuat oleh SIE Script Writer. Karena jumlah anggota SIE Dekorasi tidak sepenuhnya cukup untuk membuat properti yang banyak dalam waktu yang singkat, maka anggota kelas lain pun ikut membuat properti. Hal ini umumnya dilakukan saat pulang sekolah di dalam ruang kelas atau di rumah salah satu siswa. Beberapa contoh properti yang telah dibuat adalah karung, kolam, pendopo, cangkul, papan tulis, dan ember. Selain itu, SIE Dekorasi dan SIE Perlengkapan juga mempersiapkan properti lain seperti koper, tas, buku, wayang, dan dakon.

Tetapi, kami juga mengalami beberapa kesulitan dalam proses pembuatan properti, yakni rusaknya properti setelah digunakan untuk latihan sehingga harus sering diperbaiki. Ini tentunya memakan banyak sekali waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk melatih pertunjukkan. Proses pembuatan properti yang kompleks juga menjadi suatu kendala ketika harus diperbaiki karena adanya banyak sekali langkah yang harus dilakukan. Adanya berbagai revisi mengenai properti, seperti perlu ditambahkannya cat pada properti ember serta pembuatan ulang properti pendopo menggunakan kayu, juga menambahkan tugas yang harus dilakukan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, kami memutuskan untuk lebih berhati-hati ketika menggunakan properti saat berlatihn agar tidak sering rusak. Apabila ada seorang anggota kelas yang dengan sengaja merusak properti, maka siswa-siswi lain dengan tegas menegur dia agar tidak melakukan hal tersebut lagi. Tidak hanya itu, ketika ada properti yang harus diperbaiki, banyak sekali anggota kelas yang membantu SIE Dekorasi agar pekerjaan tersebut bisa segera diselesaikan dan memiliki kualitas yang layak untuk ditampilkan. Kami juga menyimpan properti yang ada di tempat yang cukup luas di belakang ruang kelas agar tidak rusak ketika disimpan di sana maupun saat dikeluarkan.


Penulisan Naskah

Penulisan naskah sudah mulai dilakukan sejak bulan September. Persiapan awal dilakukan dengan membaca serta merangkum buku ‘Van Lith: Pembuka Pendidikan Guru di Jawa: Sejarah 150 Tahun Serikat Jesus di Indonesia)’. Buku tersebut berisi tentang keadaan awal kedatangan Van Lith, masalah-masalah yang ia alami di Muntilan, serta segala karya yang telah ia lakukan untuk menciptakan kesejahteraan bagi warga Jawa.

Untuk menyelesaikan tugas tersebut dengan lebih mudah, kami membagi tugas membaca dan merangkum materi buku. Kemudian, kami mengadakan rapat untuk menentukan bagian mana saja yang akan dimasukkan ke dalam naskah akhir kami. Lalu, kami menyusun outline adegan-adegan untuk dijadikan bahan presentasi kepada SIE Acara. Walaupun terdapat banyak sekali hal yang perlu diperbaiki, kami tidak putus asa dan membenarkan outline adegan kami agar lebih sesuai dengan revisi yang diberikan oleh para guru. Sesudah itu, kami mulai membuat naskah dengan membagi tugas pengerjaan adegan. Saya sendiri mendapatkan bagian menulis adegan dimana Van Lith bertemu dengan warga Jawa dan belajar mengenai budaya lokal. Tidak hanya itu, saya juga membantu SIE Dokumentasi membuat caption untuk post di Instagram resmi sekolah.

Setelah naskah sudah selesai dibuat, kelas XII E memilih pemeran-pemeran yang paling cocok dengan karakter yang akan dimunculkan dalam pertunjukkan kami dan mulai berlatih. Melalui hal tersebut, kami bisa melihat adegan mana yang sungguh-sungguh bagus untuk dimunculkan dan melakukan beberapa revisi tambahan pada naskah untuk lebih memantapkannya lagi. Kami juga mendapatkan masukkan dari SIE Acara sesudah tampil di depan mereka dan menerapkannya juga. Beberapa hal yang kami ubah termasuk penambahan adegan musikal, penambahan konflik antar Van Lith dan warga, penambahan interaksi Van Lith dengan warga yang lebih bervariasi, serta memotong beberapa adegan yang terlalu panjang, seperti adegan Van Lith mengajar di Kweekschool.

Namun, kami juga mengalami beberapa kesulitan dalam proses pembuatan naskah, yakni jumlah revisi yang harus dilakukan cukup banyak. Oleh karena itu, kami bekerja dengan keras untuk bisa menyelesaikan revisi tersebut dengan tepat waktu agar bisa menyempatkan waktu untuk melatihnya bersama kelas. Kami juga sering mengadakan diskusi antar anggota SIE Script Writer untuk menentukan jalan cerita yang paling tepat dan realistis untuk ditampilkan di panggung. Selain itu, kami juga sering membagi update terbaru mengenai naskah agar setiap anggota kelas bisa mengerti apa yang telah diganti dan memberikan input mereka mengenai hal tersebut.


Dari pengalaman ini, saya belajar untuk selalu bertanggung jawab atas segala tugas yang telah dipercayakan kepada saya sebab hal tersebut merupakan bagian yang krusial dalam melakukan penampilan yang maksimal. Tidak hanya itu, saya juga belajar akan pentingnya mengatur waktu dan bekerja sama dengan orang lain yang berbeda dengan saya. Karena kerja keras dan usaha dari setiap anggota kelas XII E, pagelaran kami mampu menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *