Artikel Cerita Kuliner (Reganmian & Enshi Kang Tudou) – Kelompok 3

Setiap daerah di Tiongkok memiliki kuliner yang menuturkan kisahnya sendiri. Pada Provinsi Hubei, sejarah dan cita rasa berpadu dalam dua hidangan ikonik: Reganmian, mi kering panas dari Wuhan dan Enshi Kang Tudou, masakan camilan kentang khas pegunungan Enshi. Keduanya lahir dari kebutuhan hidup masyarakat, berakar dari budaya setempat, dan kini menjadi simbol identitas kuliner Hubei.

Reganmian 热干面 (Mie Kering Panas)

Reganmian adalah hidangan tradisional Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei di Tiongkok Tengah. Reganmian sudah dikenal lebih dari 80 tahun dan tidak terlepas dari sejarah budaya makanan Tiongkok, di mana menjadi makanan sarapan paling terkenal di Wuhan. Berbeda dengan hidangan mi panas lainnya di Asia, Reganmian tidak disajikan dengan kuah, melainkan kering dengan campuran saus wijen, kecap, dan bumbu khas. Mi kering ini sering dijual dengan harga terjangkau (sekitar 4-6 yuan) oleh gerobak jalanan dan restoran di area perumahan dan perkantoran, mulai subuh hingga di pasar malam Wuhan.
Hidangan mi muncul melalui dua versi. Keduanya dipengaruhi oleh musim panas di Wuhan yang sangat panjang dan panas sehingga makanan mudah basi. Pada masa lalu, orang menambahkan soda kue (baking soda) ke dalam adonan mi untuk memperlambat proses pembusukan. Dari kebiasaan ini, berkembanglah resep mi kering panas/hot dry noodles.

Versi Bao Li
Menurut cerita yang beredar, pada tahun 1930-an, ada seorang penjual mi bernama Bao Li yang berjualan di Jalan Changdi, dekat Kuil Guandi di wilayah Hankou. Cuaca yang panas dan dagangan yang sering tidak laku, membuat mi yang tersisa mudah basi. Suatu hari, Bao Li tidak sengaja menumpahkan minyak wijen ke mi sisa, lalu beliau rebus dan menambahkan daun bawang serta bumbu lain keesokan paginya. Ternyata, rasanya enak dan unik sehingga pembeli pun menyukainya. Sejak saat itu, Bao Li menjual mi buatannya dengan nama Reganmian dan hidangan ini menjadi populer di Wuhan. Tetapi, resep Bao Li sedikit berbeda dari versi modern yang dikenal sekarang.

Versi Cai Mingwei
Tokoh lain yang dianggap berjasa dalam menciptakan versi modern Reganmian adalah Cai Mingwei, lahir pada April 1912, di Distrik Huangpi. Setelah berhenti bekerja di apotek di Hankou, beliau mulai menjual mi dengan cara unik. Pertama, mi di rebus terlebih dahulu, lalu didinginkan dengan air. Kemudian, dicampur dengan minyak wijen dan disebar agar kering, serta digulung menjadi bundelan. Cara tersebut membuat mi dapat disajikan cepat saat pagi hari. Untuk membuat mi lebih kenyal, Cai Mingwei menambahkan garam dan alkali makanan dan memperkaya bumbunya dengan saus wijen, cuka, cabai, gula, dan acar wortel berbumbu. Dari situlah, tercipta Reganmian modern seperti yang dikenal sekarang.
Setelah perang melawan Jepang berakhir pada tahun 1945, Cai Mingwei membuka restoran Cai Lin Ji (蔡林记) di sudut Jalan Manchun dan Zhongshan Avenue, di mana ke depannya menjadi sangat terkenal. Nama Cai Lin Ji, diambil dari dua pohon chinaberry di depan toko, yang melambangkan kerja keras, kebahagiaan, dan keberuntungan.

Melalui dua versi tersebut, pada tahun 1950 Reganmian secara resmi dinamakan dan sejak itu menjadi ikon kuliner kota Wuhan.

Enshi Kang Tudou 恩施炕土豆 (Kentang Panggang Enshi)

Enshi Kang Tudou adalah makanan camilan khas wilayah pegunungan di Barat Daya provinsi Hubei, yang memiliki banyak daerah pertanian tersier. Menurut riset, kentang di Enshi bukan hanya sebagai lauk kecil, melainkan pernah menjadi bagian dari makanan pokok penduduk setempat.
Kentang Enshi memiliki sejarah penanaman yang panjang, sudah dibudidayakan lebih dari dua abad, di wilayah Enshi, Provinsi Hubei, Tiongkok. Tradisi menanam kentang ini diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat suku Tujia, yang mempertahankan cara tanam alami tanpa banyak campur tangan teknologi modern.
Kondisi tanah Enshi yang subur dan kaya akan unsur selenium menjadikan kentang ini unik, baik dari segi rasa maupun kandungan gizi. Seiring dengan perkembangan waktu, Enshi Kang Tudou berkembang dari bahan pangan pokok masyarakat pengunungan menjadi produk unggulan daerah dengan nilai ekonomis dan budaya yang tinggi. Dalam budaya lokal etnis Tujia dan Miao di Enshi, kentang sering digunakan dalam berbagai cara memasak: dikukus, dicampur nasi, digoreng, atau dipanggang.
Hidangan ini, menjadi bagian dari identitas kuliner daerah, bukan hanya sebagai makanan rumah tangga, tetapi juga disajikan di restoran atau warung wisata wilayah Enshi. Pada zaman sekarang, Kentang Enshi diakui sebagai produk dengan Indikasi Geografis Nasional Tiongkok, melambangkan kebanggaan masyarakat lokal atas hasil bumi dan tradisi kuliner mereka.

Melalui Reganmian dan Enshi Kang Tudou, tergambar jelas bahwa setiap hidangan menyimpan cerita dan nilai budaya di balik rasanya. Mengenal sejarah dan asal-usul makanan tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menumbuhkan rasa apresiasi terhadap proses dan kreativitas masyarakat yang menjadikan kuliner Hubei begitu istimewa.

(Funfact: mencari sejarah lengkap dari kedua makanan tersebut tidak mudah karena banyak sumber yang berbeda dan tidak dalam bahasa Inggris. Tetapi, hal ini tentunya membuat menarik karena setiap versi punya ceritanya sendiri!)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *