Refleksi Uprak Umum – Cathleen Sukwanputra

“Bethlehem Van Java” merupakan pengalaman yang sangat berkesan bagi saya, karena saya terlibat sebagai koreo sekaligus warga dalam pementasan tentang Romo Frans Van Lith. Kegiatan ini bukan hanya sekadar ujian praktik (uprak), tetapi menjadi proses pembelajaran yang penuh tantangan dan makna.

Perjalanan dimulai dari latihan pertama yang masih terasa kaku dan belum terarah. Kami masih mencoba memahami alur cerita dan mendalami kisah perjuangan Romo Frans Van Lith dalam mengembangkan pendidikan dan menyebarkan nilai kemanusiaan di tanah Jawa. Sebagai koreografer, saya harus memastikan bahwa setiap gerakan bisa mendukung suasana cerita, terutama dalam menggambarkan semangat persatuan, harapan, dan pelayanan.

Di tengah proses latihan, kami menghadapi tantangan besar ketika naskah harus diganti. Perubahan ini sempat membuat suasana menjadi panik karena kami harus menyesuaikan dialog, alur adegan, dan pembagian peran. Namun, untuk bagian gerakan, kami tidak merombaknya secara besar-besaran. Gerakan tetap digunakan, hanya disesuaikan dengan transisi dan penempatan adegan yang baru. Dari situ saya belajar bahwa tidak semua perubahan berarti harus mengulang dari nol. Terkadang yang dibutuhkan hanyalah penyesuaian dan koordinasi yang lebih baik.

Sebagai koreo, saya memiliki tanggung jawab untuk mengoordinasi teman-teman dalam belajar flashmob. Tantangan terbesarnya adalah menyatukan tempo dan kekompakan. Ada yang cepat menangkap gerakan, ada juga yang perlu pengulangan berkali-kali. Saya harus belajar bersabar dan menjelaskan dengan lebih jelas. Saya juga mencoba membagi latihan menjadi beberapa bagian kecil agar lebih mudah dipahami. Selain itu, saya mengingatkan teman-teman untuk berlatih mandiri di rumah agar saat latihan bersama bisa lebih efektif.

Mengatur banyak orang agar bergerak serempak bukan hal yang mudah. Saya belajar untuk berbicara lebih tegas namun tetap ramah. Saya juga belajar mendengarkan masukan dari teman-teman, karena terkadang mereka memiliki ide yang bisa membuat gerakan terlihat lebih rapi dan menarik. Proses koordinasi ini melatih saya untuk menjadi lebih percaya diri dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

Sebagai warga dalam pementasan, saya menyadari bahwa peran kecil pun tetap penting. Walaupun bukan tokoh utama, kehadiran warga membangun suasana dan memperkuat pesan cerita. Dari sini saya belajar bahwa dalam sebuah tim, setiap peran saling melengkapi. Tidak ada yang lebih penting atau kurang penting, semua memiliki fungsi masing-masing.

Dari uprak ini, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga. Saya belajar tentang kerja sama, komunikasi, disiplin waktu, dan tanggung jawab. Saya juga belajar untuk tetap tenang ketika menghadapi perubahan, seperti saat naskah diganti. Selain itu, saya semakin memahami nilai perjuangan dan dedikasi yang dicontohkan oleh Romo Frans Van Lith, khususnya dalam bidang pendidikan dan pelayanan kepada masyarakat.

Secara keseluruhan, “Bethlehem Van Java” menjadi pengalaman yang membentuk karakter saya. Saya merasa lebih matang dalam bekerja sama, lebih sabar dalam menghadapi perbedaan kemampuan teman-teman, dan lebih percaya diri dalam memimpin. Upr ak ini bukan hanya tentang menampilkan pertunjukan yang baik, tetapi tentang proses belajar yang membangun sikap dan kepribadian saya menjadi lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *