
Nama saya Cecilia Lenny Iskandar, seorang siswi kelas 12 dari SMAK St. Louis 1 Surabaya. Rasanya aneh menulis ini, karena tidak terasa sudah hampir tiga tahun saya bersekolah di sini. Sekarang saya ada di titik akhir masa SMA, dan salah satu pengalaman yang paling membekas adalah saat menjalani ujian praktik melalui pementasan drama berjudul “Bethlehem Van Java.”
Jujur saja, awalnya saya menganggap ini hanya tugas yang harus diselesaikan supaya dapat nilai dan bisa cepat lulus. Tapi ternyata prosesnya jauh lebih dalam dari itu. Latihan yang hampir setiap hari membuat saya benar-benar belajar mengatur waktu. Pulang sore dengan badan capek, masih harus belajar untuk ujian di esok hari, kadang rasanya ingin mengeluh. Ada momen di mana saya merasa tidak sanggup dan bertanya kenapa kelas 12 terasa seberat ini. Namun, saya mengerti bahwa momen ini akan menjadi momen berharga bagiku, jadi saya ikut berpartisipasi dengan membantu drama ini sebagai sie dekor dan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.
Drama ini menceritakan tentang karya Pastor Van Lith di Muntilan yang dikenal sebagai “Bethlehem Van Java.” Dari situ saya mulai berpikir, kalau orang-orang dulu bisa berjuang dalam kondisi yang jauh lebih sulit demi pendidikan dan iman. Cerita itu pelan-pelan mengubah cara saya melihat proses ini.
Selama latihan, saya juga belajar banyak tentang kerja sama. Tidak semua berjalan mulus. Ada yang lupa dialog, ada yang datang terlambat, ada yang emosinya naik turun karena sama-sama stres. Tapi justru di situ kami belajar saling mengerti. Kami tahu waktu kami sebagai anak kelas 12 tidak lama lagi, jadi setiap latihan terasa lebih berarti.
Saat hari pementasan tiba, saya deg-degan sekali. Tangan terasa dingin, pikiran campur aduk. Tapi ketika sudah berdiri di atas panggung, rasa takut itu perlahan hilang. Saya hanya fokus menjalani peran sampai selesai. Ketika pertunjukan berakhir dan tepuk tangan terdengar, ada rasa lega sekaligus haru.
Bagi saya, drama ini bukan sekadar ujian praktik. Ini seperti penutup yang pas untuk perjalanan saya di SMA. Saya belajar tentang tanggung jawab, tentang bertahan saat lelah, dan tentang menghargai kebersamaan. Mungkin beberapa tahun ke depan saya tidak akan mengingat bagaimana lelahnya ujian praktik ini, tapi saya yakin saya akan selalu ingat prosesnya dan bagaimana pengalaman itu membuat saya sedikit lebih dewasa sebelum benar-benar melangkah keluar dari SMAK St. Louis 1 Surabaya.
Lebih dari itu, saya merasa pengalaman ini menjadi simbol bahwa setiap akhir sebenarnya adalah awal yang baru. Seperti makna “Bethlehem” sebagai tempat kelahiran, masa SMA ini juga menjadi tempat saya bertumbuh dan “lahir” sebagai pribadi yang lebih siap menghadapi dunia luar. Saya tidak hanya lulus sebagai siswa, tetapi juga sebagai seseorang yang belajar menghargai proses, menghargai orang-orang di sekitarnya, dan berani melangkah ke bab selanjutnya dalam hidup saya.
Leave a Reply