
Dalam pelaksanaan ujian praktik, kelas XII-E mempersembahkan sebuah drama berjudul Bethlehem van Java yang mengisahkan perjuangan dan pengabdian Romo Frans van Lith dalam menyebarkan agama Katolik di Pulau Jawa. Drama ini menggambarkan perjalanan misinya yang penuh tantangan hingga akhirnya Van Lith berhasil mendirikan sekolah serta membaptis kurang lebih 171 warga Kalibawang di Sendangsono.
Dalam pagelaran ini, saya berperan sebagai script writer atau penulis naskah. Pada peran ini, kami bertanggung jawab menyusun naskah yang akan dimainkan oleh para pemain saat pementasan. Proses yang saya lakukan dimulai dari membaca dan memahami kisah perjuangan Romo Frans van Lith yang hendak melakukan misinya di tanah Jawa. Setelah itu, para scriptwriter mulai menyusun alur cerita, menulis dialog, serta melakukan revisi naskah berkali-kali agar alurnya semakin runtut dan agar pesan yang ingin disampaikan dapat ditangkap dengan jelas. Proses revisi ini tidak selalu mudah, karena kami harus menyesuaikan alur drama dengan kebutuhan, durasi, dan kemampuan para pemeran.
Pada awalnya, konsep drama kami terdiri dari sangat banyak blackout untuk pergantian adegan. Namun, seiring berjalannya waktu dan melalui berbagai diskusi bersama, alur cerita serta permasalahan dan tantangan yang dihadapi Romo Frans van Lith selama misinya dibuat lebih mengalir dan terhubung satu sama lain. Dengan konsep sequence tersebut, cerita dapat lebih menarik, sehingga pada akhirnya drama kami hanya terdiri dari satu kali blackout saja.
Selain itu, tantangan lain yang kami rasakan adalah adanya perubahan beberapa konsep yang waktunya cukup mepet dengan hari pelaksanaan. Bahkan ketika sudah H-13, kami kembali menemukan konsep baru yang dirasa lebih menarik untuk menggambarkan peristiwa pembaptisan di Sendangsono. Kami menambahkan drama musikal dengan mengadakan nyanyian dari beberapa aktor. Walaupun waktu yang kami miliki sangat terbatas untuk menyempurnakan dan mematangkan konsep baru ini, sebagai script writer kami tetap berusaha menyesuaikan naskah, dan para pemeran pun berlatih dengan maksimal. Pada akhirnya, seluruh konsep baru tersebut dapat dilaksanakan dengan baik dan sukses pada hari H.
Dari pengalaman saat ujian praktik ini, saya belajar bahwa kreativitas, keberanian, dan kemampuan beradaptasi sangatlah diperlukan dalam pelaksanaan sebuah proyek, terutama proyek yang melibatkan banyak orang seperti pagelaran drama. Kreativitas mendorong kami untuk terus mencari konsep yang lebih baik dan tidak berhenti pada ide awal yang masih bisa dikembangkan. Tanpa kreativitas, drama kami mungkin akan tetap terdiri dari banyak blackout tanpa konsep yang unik dan menarik. Selain itu, keberanian untuk mencoba hal baru serta kekompakan dan kemampuan beradaptasi seluruh anggota kelas XII-E sangat berperan penting dalam mewujudkan konsep sequence dan drama musikal yang akhirnya menjadi kekuatan utama pementasan kami.
Melalui uprak ini, saya menyadari bahwa sebuah hasil yang baik tidak akan tercipta secara instan, namun harus melewati proses yang panjang dan kerja sama. Pengalaman ini menjadi pembelajaran berharga bagi saya, baik dalam akademik maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply